Gambar
Loading...
Selamat datang di website kami, semoga Anda mendapatkan informasi yang bermanfaat dan pengalaman terbaik bersama layanan kami.


Review Film Pelangi di Mars (2026)

Redaksi Kotapedia | Review Film Indonesia 2026

Di tengah dominasi horor dan drama romantis, perfilman Indonesia menghadirkan warna berbeda lewat Pelangi di Mars. Disutradarai oleh Upie Guava, film ini memadukan fiksi ilmiah, petualangan, dan drama keluarga dalam satu kemasan emosional dan futuristik.



Thumbnail Video


Film ini mengisahkan Pelangi (Messi Gusti), anak 12 tahun yang menjadi manusia pertama lahir dan tumbuh di Mars. Dalam kesunyian planet merah, ia hidup bersama robot-robot cerdas yang menjadi sahabat sekaligus keluarganya.

Ketika Bumi mengalami krisis air akibat monopoli korporasi Nerotex, harapan terakhir tertuju pada mineral langka bernama Zeolith Omega yang diyakini mampu memurnikan sumber air. Pelangi pun memulai petualangan berbahaya mencari mineral tersebut—sebuah perjalanan yang bukan hanya tentang sains, tetapi juga tentang keberanian dan cinta kepada ibunya, Pratiwi (Lutesha).



Whats-App-Image-2025-07-18-at-18-21-32

Didukung penampilan Rio Dewanto dan Livy Renata, film ini menghadirkan konflik emosional sekaligus spektrum petualangan yang luas.

Kekuatan Film
  • Konsep Cerita yang Segar
    Premis tentang anak yang lahir di Mars menjadi pijakan kuat yang jarang disentuh film nasional. Perspektif dunia dari mata anak membuat kisah terasa hangat dan reflektif.
  • Isu Lingkungan yang Relevan
    Krisis air dan monopoli sumber daya menjadi kritik sosial yang relevan dengan kondisi global. Pesan sains dan etika disampaikan secara halus tanpa menggurui.
  • Teknologi Hybrid
    Penggunaan live action dan karakter robot animasi memberikan pengalaman visual futuristik yang ambisius dan berbeda dari film Indonesia pada umumnya.

Messi Gusti tampil meyakinkan sebagai Pelangi yang lugu, berani, dan penuh rasa ingin tahu. Lutesha memberi kedalaman emosional sebagai sosok ibu yang menjadi pusat batin cerita. Rio Dewanto tampil solid, sementara Livy Renata memberi warna tersendiri dalam dinamika karakter.

Chemistry antara Pelangi dan robot-robotnya menjadi elemen paling menyentuh dan membuat film ini mudah diterima oleh penonton keluarga.

Catatan

Tempo film di beberapa bagian terasa lambat, terutama saat eksplorasi awal konflik. Namun secara keseluruhan, ritme cerita tetap terjaga dan klimaks terasa emosional.

Kesimpulan
Pelangi di Mars bukan sekadar film petualangan luar angkasa, tetapi kisah tentang harapan, keluarga, dan dedikasi sains untuk masa depan manusia.

Film ini menjadi langkah berani bagi sinema Indonesia untuk menjelajahi genre sci-fi dengan pendekatan yang humanis dan relevan. Sebuah bukti bahwa industri film nasional mampu menatap masa depan dengan cerita yang kuat dan visual yang ambisius.

⭐ Rating: 8 / 10

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama