Balikpapan — Siang ini, Rabu (20/08/26) bau oli dan debu bengkel masih menempel di tangan Hasanuddin ketika ia bercerita tentang rencananya mendaftar kuliah. Duduk di sebuah kursi kayu di halaman rumahnya, Jalan Mulawarman RT. 06, Kelurahan Teritip, pria yang selama ini dikenal warga sebagai pemilik bengkel dan pelaku usaha transportasi ini akan resmi menyandang status baru: calon mahasiswa baru (camaba) Program Studi Hukum, Universitas Mulia.
Keputusan ini bukan datang tiba-tiba. Ia mengaku pesan dari orang tuanya masih terngiang jelas: pendidikan harus diutamakan, apa pun kondisinya. Pesan itu yang kemudian menjadi salah satu alasan utamanya melanjutkan studi S1 Hukum, di usia yang barangkali sudah tak lagi muda untuk memulai bangku kuliah.
"Pendidikan itu jangan pernah berhenti," ujarnya,
mengulang nasihat yang juga sering ia dengar dari seorang kawan dekat yang selalu mengingatkannya soal pentingnya belajar. Bagi Hasanuddin, dorongan itu terasa semakin relevan di zaman sekarang, ketika ilmu pengetahuan terus berkembang dan siapa pun yang berhenti belajar akan tertinggal oleh perubahan.
Keinginan untuk kuliah itu pun tidak berhenti sebagai niat pribadi. Ia berharap langkahnya bisa menjadi pemantik bagi keluarganya sendiri, agar generasi setelahnya juga terdorong menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Baginya, contoh nyata lebih berbicara daripada sekadar nasihat.
Bengkel Kecil, Ruang Besar untuk Anak Muda
Di luar aktivitas menempuh pendidikan, Hasanuddin dikenal warga Teritip sebagai pengusaha di bidang transportasi dan bengkel. Usaha bengkelnya, yang diberi nama Hantu Rimba, berdiri di wilayah Teritip dan selama ini menjadi tempat berlabuh bagi anak-anak muda yang membutuhkan kesempatan.
Tidak jarang, siswa SMK jurusan otomotif di wilayah Balikpapan Timur kesulitan mendapatkan tempat Praktik Kerja Lapangan (PKL). Di sinilah Bengkel Hantu Rimba mengambil peran.
Hasanuddin membuka pintu bengkelnya untuk menampung siswa-siswa tersebut, memberi mereka ruang belajar dan bekerja meski fasilitas usahanya tergolong sederhana.
"Di Hantu Rimba itu tidak butuh keahlian khusus. Yang penting mau kerja keras," katanya.
Baginya, semangat dan kemauan untuk belajar jauh lebih penting ketimbang keterampilan yang sudah jadi. Prinsip itu pula yang tampaknya ia pegang dalam hidupnya sendiri — bahwa proses belajar bisa dimulai dari mana saja, kapan saja, tanpa harus menunggu kondisi ideal.
Dari Kunci Pas ke Buku Undang-Undang
Perjalanan Hasanuddin, dari pemilik bengkel kecil di pinggiran Teritip menuju bangku kuliah hukum di Universitas Mulia, adalah potret sederhana tentang bagaimana semangat belajar tidak mengenal batas usia maupun latar belakang pekerjaan. Ia membuktikan bahwa tangan yang terbiasa memegang kunci pas pun bisa terbuka untuk memegang buku undang-undang.
Kini, sembari tetap menjalankan usaha transportasi dan bengkelnya, Hasanuddin bersiap menapaki babak baru sebagai mahasiswa Program Studi Hukum. Sebuah langkah yang, menurutnya, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga sebagai jejak yang ingin ia tinggalkan bagi keluarga dan anak-anak muda di sekitarnya. []

Posting Komentar